Senjaku=Iriana



                    Angin bertiup lembut membelai wajah kami. Aku tidak bisa berhenti menatap wajahnya yang sedari tadi memandang lurus kedepan. Mungkin ia menemukan luasnya hamparan sawah dan padi yang menghijau dalam pandangannya, hamparan sawah dan padi yang menghijau dalam balutan senja, nampak luar biasa memang. Tapi aku menemukan semesta dalam balutan senja pada wajahnya. Rambut yang melambai tertiup angin, menambah kesan cantik melebihi polesan make-up artis sekalipun. Nampak alami, se-alami padi yang menghijau ini. Nampak anggun, se-anggun senja yang sedang kami nikmati.
            “Are, coba lihat awan itu.” Iriana menunjuk salah satu awan.
            “Tampak seperti sebuah cincin.” Jawabku singkat.
            “Cincin dengan balutan permata senja.” Iriana tersenyum.
Aku terpana dibuatnya, awan yang berbentuk sebuah cincin dengan permata pancaran senja. Indah bukan main. Dalam hati aku berdo’a “Wahai Sang Maha Mengetahui deru yang bergemuruh dalam hati setiap manusia, tolong jaga semestaku, tolong jaga keteduhannya, tolong jaga senjaku=iriana.”


Degup Jantung Yang Sama





          Warna kuning keemasan membuncah langit sore, membuka cakrawala dengan kekaguman. Senyum ku pun turut menjadi saksi keindahannya. Aku duduk di pinggir jalan yang hanya bisa di lewati motor dan pejalan kaki saja tapi sepi jika sudah menjelang sore, di tengah area persawahan yang cukup luas. Aku rutin dua minggu sekali melakukan jogging sore. Dan ini lah tempat favorit ku. Ketika lelah merangkul ku, aku akan beristirahat sejenak. Duduk sambil menikmati sunset di sini. Aku masih selalu melakukan ritual permainan anak-anak yang dikenal dengan sebutan "ABC lima dasar". Dengan menunjukkan berapa jari tangan yang kita perlihatkan, lalu kita masing-masing bisa membuat pertanyaan dengan jawaban dari awal huruf jumlah jari kita, bersama seseorang.
"kita main ABC lima dasar yuk ,tom !", ajak ku.
"bentar ah vi ! masih capek nih ..", jawab thomas sambil menyeka keringat yang masih berkucuran di dahi nya.
"ayook .. lu kan udah minum, udah duduk, udah liat sunset, masa' masih capek sih ?",gerutu ku sambil menekuk wajah.
"Eciyee.. yang lagi ngambek.. Gak asik ah, gitu aja ngambek sih vi ,haha … Ya udah ayok deh ayok ..",jawab Thomas.
"horee .. ayok ! ABC lima da..sar !", aku menunjukkan tiga jari sedangkan thomas empat jari.
"a, b, c, d, e, f, g,"kata thomas sambil menghitung jari-jari kami dengan huruf alphabet.
"kalo dion lagi galau ,ngapain ?",kata ku melempar pertanyaan.
"gigit-gigit centong nasi !", jawab thomas.
"emm .. goyang itik di depan emak nya !" jawab ku.
"yeayy ! gue menang ! haha .. kalah cepet lo vi !
"jahh , dua kali lagi ,bodoh !",jawab ku dengan sedikit kesal.
"oke, ABC lima da..sar ! ,aku menunjukkan dua jari, begitupun Thomas.
"a, b, c, d,", kata ku.
"pak romi kalo lagi patah hati ,ngapain hayo ?", thomas melempar pertanyaan.
"duduk di atas loteng !",jawab ku.
"dekte-in soal-soal bagaimana cara move on ke anak-anak ! haha ",jawab thomas.
"waahh, gila lo ,tom .. haha .. eits, tapi gue yang menang, lo yang kalah cepet, sekali lagi ya .",jawab ku.
"ABC lima da..sar ! a, b, c, d, e, f, g, h, i,", kata ku, sambil menghitung jari kami, thomas lima, sedangkan aku empat.
"kalo si jono lagi kumat ngondek nya bilang apa hayo ?", kata ku.
"ihh .. otot abang cucok dehh ! jadi merindang semua bulu kuduk eike ! haha.. " jawab ku.
"idihh … jorok amat deh lu vi jadi cewek, liat eike dong, cucok abis begini ! haha …", jawab thomas.
"rese' lu tom ! haha .. ayok gendong gue ,gue menang ! haha ..", kata ku.
"iye-iye vio jelek , bawel , .."kata thomas sembari mengacak-acak poni ku lalu duduk jongkok membelakangi ku.
"tomas mancung tapi rese' .. seneng amat liat gue murka kalo lu ngacak-ngacak poni gue.", jawab ku dengan kesal.

Begitulah sepintas kebahagiaan ku bersama thomas, teman sepermainanku sedari kecil. Aku menyayangi nya. Lebih dari sekedar teman maupun kakak. Jauh di hati ku yang paling kecil. Aku mencintainya. Tapi kami berbeda keyakinan, dia menganut agama kristiani sedangkan aku islam. Itu lah yang membuat ku agak terperangai mengharapkan yang lebih dari hubungan kami. Aku pun sudah sangat bahagia dengan hubungan kami ini. Namun itu hanya awalnya. Di semester pertama kami di kelas XII SMA ,aku tak sengaja mengetahui perasaan thomas kepadaku. Saat itu aku ketiduran di taman belakang rumah, kebiasaan ku di saat malam minggu adalah duduk di ayunan bersama thomas, berfilosofi ria ataupun sekedar bercanda gurau, maupun mendengarkan radio sambil menatap langit malam.

"Vi, vi .. nahh .. ketiduran nih bocah .. hehe .. manis juga lo vi kalo
lagi tidur pules gitu ."kata     thomas.

Entah, saat itu aku benar-benar mendengar suara thomas jelas di samping telinga ku.

"Vi.. thank's ya udah jadi hal terindah dalam hidup gue, thank's buat
tahun-tahun terindah yang lo kasih ke gue, thank's karena lo tetep jadi
alasan gue tersenyum, lo dunia gue vi … Gue tau kita gak mungkin bisa
pacaran ataupun lebih, jadi please ... ijinin gue untuk tetep jadi alasan lo
tersenyum." kata thomas lirih.


          Ada sesuatu, hangat, menghampiri bibir ku. Dan aku coba membuka mata ku sedikit saja. Ternyata Thomas !  aku terkejut . Dengan tetap menutup mata ,aku coba sedikit bergerak seperti seseorang yang sedang sedikit mengigau. Dia pun tersentak kaget lalu lekas menggendongku ke dalam rumah dengan mencoba tetap tenang. Dalam gendongannya, hati ku berdegup lebih kencang, detak jantung ku berlari-larian tak menentu. Aku juga mendengar, merasakan degup jantung Thomas. Jantung kami melantunkan degup yang sama (cinta). 

BUKAN CINTA MANUSIA BIASA (Part 2)


#SURAT UNTUK ARE

Aku menemukan sebuah memoar yang terjatuh ditempat biasa kita menyaksikan senja, are. 
Memoar yang kamu peruntukkan ‘Paramashinta Az-Zahwa’, dan akulah pemilik nama itu.

Memoar itu sangat indah, are. 
Aku bahkan tidak menyadari tetes demi tetes yang mengalir dipipiku saat aku membacanya. 
Kamu adalah aku. Separuh dari diriku. 
Kamu bahkan lebih mengerti aku daripada diriku sendiri.

Aku malu, are. 
Aku malu karena aku pun seorang yang bebal. 
Aku sungguh ingin mencintai kamu. 
Tapi, apakah manusia dapat menentukan kepada siapa ia jatuh cinta? Tentunya tidak, are. 

Sama sepertimu, cinta yang menentukan kepada siapa kamu jatuh cinta, pun aku. 
Aku juga tidak bisa memaksakan perasaanku untuk mencintaimu lebih dari sahabat yang teramat baik.
Ma’af, are … 

Cinta memilihku untuk menjatuhkan hati pada pria itu, satu-satunya pria yang kau setujui untuk menjadi pendamping hidupku. 
Aku janji aku akan bahagia untukmu, are.

Percayalah, are. 
Tuhan sedang mempersiapkan bidadari berhati permata untuk disandingkan dengan engkau.

Terimakasih karena sudah melepaskanku.
Terimakasih karena sudah mengikhlaskanku.

Semoga kamu lekas menemukan, saat kamu melepaskan.

Semoga kita dapat bertemu lagi dalam bahagia, sahabatku. Areno Adamar.


JATUH CINTA DIAM-DIAM



Jatuh cinta diam-diam itu ibarat teduh senja,
Tak banyak hati yang mampu menangkapnya
Jatuh cinta diam-diam itu seperti setetes embun pada pagi,
Rela habis terbakar sinar mentari, demi menyejukkan daun yang amat ia cintai

Diam-diam memperhatikan sorot matamu,
Diam-diam menyimpan segala kebiasaanmu di otakku,
Diam-diam merindukanmu,
Dalam diam aku sungguh-sungguh mencintaimu,

Biarkan aku mencintai kamu, karena aku tidak pernah lelah untuk itu.
Biarkan aku mencintai kamu, karena dengan itu aku merasa menemukan suatu kenyamanan.
Biarkan aku mencintai kamu, karena dengan itu aku merasa Tuhan mencintaiku tanpa syarat.

Dan biarkan aku membahagiakan kamu, sampai semua tentangku telah berakhir.


BUKAN CINTA MANUSIA BIASA (Part I)



“Ku tetap mencintaimu, masih. Meski kamu tidak cinta aku. Ku tetap merindukan kamu.”
Pernahkah kamu mencintai seseorang yang tidak mencintaimu?
Pernahkah kamu merindukan seseorang setiap harinya meski sekalipun dia tidak merindukanmu?
Pernahkah kamu bertahan demi seseorang yang sama sekali tidak mempertahankanmu?
Aku pernah.

Aku pernah berdarah demi mencintai seseorang yang tidak mencintaiku.
Aku pernah menguras habis air mataku hanya untuk merindukan seseorang yang tidak pernah merindukanku.
Aku pernah menukar kebahagiaanku demi bertahan untuk seseorang yang tidak pernah mempertahankan aku.

Aku akui, aku adalah seorang yang bebal.
Tapi aku mencintaimu.
Aku terluka, tapi aku bahagia hanya sebab kamu tersenyum jika bersamaku.

Meskipun bukan senyum yang menggambarkan sebuah perasaan cinta.

Sampai aku benar-benar menyaksikan senyummu yang paling bersinar ketika bersama pria itu.
Membuatku sadar akan satu hal.
Melepaskan bukanlah akhir dari segala hal, tapi awal yang baru.
Bahwa mengikhlaskan bukanlah menyerah, melainkan menerima hal-hal yang tidak bisa dipaksakan.

Ku tetap mencintaimu, masih.
Maka dari itu, kamu aku lepaskan untuk terbang sebebas-bebasnya.
Untuk singgah dihati siapapun yang kamu kehendaki.
Aku membiarkan kamu pergi, karena aku merasakan bahwa kamu lebih berbahagia ketika aku lepaskan.

Pergilah …
Aku mengikhlaskanmu.

Itulah wujud cintaku terhadapmu, za.
(Paramashinta Az-zahwa)





SENJA DIPELUKAN BUNGA TUJUH RUPA


            Rasya memintaku menunggunya ditempat ini, tempat biasa kami menikmati senja. Disinilah segala keluh kesah kami tumpahkan bersama, dengan canda juga tawa. Sesekali terdengar kicau burung berlalu-lalang sedang mencari seuntai ilalang kering untuk membangun rumahnya. Seperti kami. Kami juga sedang mencari keyakinan pada diri kami masing-masing, untuk membangun sebuah rumah, rumah tempat kami kembali kemana pun kami pergi. Empat tahun 5 bulan, waktu yang bukan sebentar kami habiskan bersama. Dalam kurun waktu tersebut kami memulainya dari nol. Berawal dari seorang gadis SMA dan seorang mahasiswa yang saling jatuh cinta. Sampai pada saat ini, saat yang sudah mantap untuk kami melangkah ke jenjang pernikahan.
            Sudah pukul 16.30 WIB, rasya belum juga muncul. Selepas sholat ashar di masjid dekat kantorku, aku langsung kesini karena rasya memintaku untuk lekas ke tempat ini seusai sholat ashar. Tapi ia belum juga muncul. “Ah, mungkin sebentar lagi dia datang.” Ucapku dalam hati sambil terus melihat jam yang melingkar ditanganku.
“Assalamu’alaikum, nadya. Ma’af ya aku terlambat datang, tadi aku membeli es krim dan camilan terlebih dahulu. Aku gak rela kalau sampai pipi tembem kamu ini mengempes walau sedikit saja.” Ucap rasya sambil tersenyum.
“Walaikumsalam, rasya. Iya tidak apa-apa. Terimakasih, karena selama empat tahun lima bulan ini kamu selalu membelikan es krim kesukaanku ketika kita sedang menyaksikan senja.” Ucapku sambil tersenyum.
“Iya sayang, bagaimana pekerjaanmu hari ini? Apakah masalah dengan klien tempo hari sudah menemui titik terang?”
“Alhamdulillah, sudah. Pihak perusahaan akan mengganti kesalahan teknis yang terjadi dilapangan secara gratis. Karena kalau sampai ke meja hijau, tentu biaya yang dikeluarkan akan jauh lebih besar dan akan berdampak besar pada perusahaan.”
“Syukurlah kalau begitu. Eh, sayang lihat awan itu. Coba tebak, awan itu mirip benda apa?” tangan rasya menunjuk salah satu awan.
“Emm … apa ya? Terlihat seperti … Kelinci.”
“Kalau yang disebelahnya?”
“Seperti … cincin. Dan disebelahnya lagi seperti … bayi. Haha .. Lucu ya?”
“Bayinya seperti kamu.”
“Kok aku?”
“Iya, pipinya. Wek ..” rasya menjulurkan lidahnya.
“Ah, kamu. Jail banget.”
“Biarin. Pacar aku ini pipinya tembem, hidungnya sedikit pesek, terkadang suka menyebalkan karena kalau udah ngambek, cuma mawar putih yang bisa membuat dia tersenyum dan mencari mawar putih yang sedang mekar, bukanlah hal yang mudah. Selain itu, suka jail mencubit hidung ku kuat-kuat. Tapi aku cinta luar biasa.” Rasya mencubit hidungku dan membenamkan kepalaku ke dalam pelukannya. Hal yang sangat membuatku  nyaman.
“Ah, bahagianya … meskipun terkadang aku bersifat seperti anak kecil, manja. Tapi kamu selalu sabar menghadapiku, membimbingku. Terimakasih ya rasya.”
“Kamu tidak perlu berterimakasih, nadya. Itu sudah kewajibanku.”
“Tak! tak! Bleh …” aku melepeh sebuah benda yang hampir tertelan olehku bersamaan dengan es krim cup yang dibelikan oleh rasya.
“Kamu kenapa, nad?”
“Gak tau, ini ada sesuatu didalam es krimnya. Loh, ini kan … cincin. Wah, pasti harganya mahal. Mungkin ini cincin pegawai es krim yang terlepas saat memasukkannya kedalam cup ya, rasya.”
“Bukan, nad … Itu cincin dariku. Dengan disaksikan oleh senja yang amat kita cintai oranyenya. Bolehkah aku menjadi imam mu? Membimbingmu menuju ibadah yang lebih sempurna. Dan maukah kamu mendampingiku dalam sakit maupun sehat? Dalam susah maupun senang? Menjalani hidup yang tak mudah denganku? Menjadi ibu dari anak-anakku?”
“Dengan disaksikan oleh senja yang amat kita cintai oranyenya. Aku mau kamu yang menjadi imamku, membimbingku menuju ibadah yang lebih sempurna,  mendampingimu dalam sakit maupun sehat. Dalam susah maupun senang. Menjalani hidup yang tak mudah denganmu dan menjadi ibu dari anak-anakmu. Aku mau, rasya” mataku berkaca-kaca, lalu terbenam dalam pelukannya.
           
            Hari ini kami akan berkeliling mencari souvenir untuk pernikahan kami, kami juga akan menengok busana untuk resepsi pernikahan kami, dan mampir sebentar untuk melihat sejauh mana persiapan undangan pernikahan kami.
“Kamu suka souvenir yang ini, nad?” rasya menyodorkan kipas kayu yang bisa disablon dengan nama kami.
“Emm … bagaimana kalau lilin aroma terapi ini saja? Selain cantik, unik, juga bermanfaat.”
“Baiklah, itu juga bagus.” Rasya tersenyum.
“Kamu cantik sekali memakai gaun ini, nad.”
“Kamu juga tampan memakai baju ini, rasya. Ada bagian yang membuatmu tidak nyaman?”
“Tidak, aku sudah nyaman memakainya.”
Konsep yang kami usung dalam pernikahan kami adalah sederhana tapi elegan, dengan sentuhan dominasi mawar putih dan busana kombinasi warna pink dan abu-abu. Membuatku yakin akan sangat bahagia dihari tersebut. Dalam adat jawa, pengantin akan dipingit selama satu minggu. Tidak boleh berkomunikasi dalam bentuk apapun apalagi bertemu. Baru empat hari kami dipingit, rinduku sudah luar biasa menggebu. Aku ingin bertemu rasya, sebentar saja. Dengan mengendap-ngendap aku meraih ponselku yang disimpan oleh ibu didalam lemari bajuku. “Aku rindu sekali denganmu, kita bertemu ya. Sore ini, ditempat biasa. I love You.”
Sudah pukul 16.15 WIB rasya belum juga muncul, ah mungkin dia sedang membeli es krim dan camilan untukku. Sambil terus memandangi jam yang melingkar ditanganku. Pukul 16.45 WIB. Aku mulai gelisah. “Ah, sial. Apakah rasya tidak membaca pesan singkatku? Dia juga sedang dipingit, mungkin saja ponselnya disimpan oleh ibunya. Kenapa tak terfikirkan olehku untuk menelfonnya?. Pukul 17.00 WIB, aku menangis. Aku rindu dengan rasya. Rasanya tak bisa lagi ditahan meskipun dua hari lagi kami akan bertemu di hari bahagia kami.
Aku pulang kerumah dengan mengendap-endap. Tapi ketahuan oleh ibuku. Ibuku menangis tersedu-sedu.
“Kamu dari mana saja, nak? Kami semua mencarimu.”
“Iya ma’afkan nadya bu … tadi nadya pergi sebentar kerumah teman. Ibu kenapa menangis seperti ini? Kan nadya sudah pulang, ibu jangan menangis lagi ya?”
“Tidak, nak. Ibu tidak bisa berhenti menangis, dada ibu terasa sangat sakit.”
“Ibu kenapa? Ibu sakit ya? Kita ke dokter saja ya?”
“Mbak, mas rasya …” ucap adik sepupuku, anita. Ia memelukku erat.
“Loh kamu kenapa menangis juga, nit? Mbak tidak apa-apa kok, mbak tadi cuma kerumah teman sebentar.
“Mas rasya, mbak … Mas rasya sudah tidak ada”
“Ya mas rasya dirumahnya, sedang dipingit. Tidak ada disini.”
“Mas rasya sudah pergi mbak, untuk selama-lamanya.”
“Ah, ngaco kamu, nit. Kamu ini bicara apa?”
“Tadi sore Pukul 16.00 WIB mas rasya kecelakaan, mbak. Ia menyelamatkan seorang anak kecil yang sedang menyeberang dan hampir ditabrak oleh sebuah truk. Tapi mas rasya menolongnya, dan mas rasya tidak tertolong. Ada plastik berisi es krim dan mawar putih kesukaan mbak di tangan mas rasya. Kami mencari mbak kemana-mana tapi tidak ketemu. Sekarang kita ke pemakaman ya mbak.”
“Kamu ngelantur ya nit? Dua hari lagi mbak menikah sama mas rasya. Mas rasya tidak mungkin pergi meninggalkan mbak. Tidak mungkin, nit!” aku tersungkur menangis terisak-isak berharap ini semua hanya mimpi buruk kegugupanku menjelang pernikahan.
“Ma’afkan aku rasya … Ma’afkan aku atas kebodohanku untuk memintamu menemuiku sore ini. Ma’afkan aku karena aku gagal memberikan kebahagiaan kepada keluarga besar kita. Ma’afkan aku karena aku tidak bisa mendampingimu di saat terakhir kamu menutup mata.” Aku tidak bisa menahan air mataku yang tumpah diatas batu nisan rasya.


“Hei, tuan penyabar yang baik hati, tuan yang sangat aku cintai dan aku rindukan pelukannya. Aku berjanji, inilah air mata terakhir yang aku tumpahkan untukmu. Aku ingin engkau tenang di sisi Allah, aku ingin air mataku tak menyulitkanmu disana. Aku ingin engkau bahagia disana. Aku berjanji, rinduku adalah lantunan al-fatihah yang senantiasa kuperuntukkan dirimu. Agar terang menyelimutimu." Semoga kelak kita bertemu di surga Allah. Menikmati senja bersama didalam pelukan bunga tujuh rupa.  


Ada Allah :)


Ada Allah…
Jangan pada kecil hati. 
Ada Allah… 
Jangan pada putus asa. 
Ada Allah. 
Teruslah berbesar hati, &berharap. Keajaiban itu ada.
Pertolongan Allah gak pernah terlambat. Yang sabar, yang ridho, yang ikhlas. Tunjukin aja dulu sama Allah, kita kuat.
Banyak merendah aja ke Allah. Jangan sampai ada pertanyaan yang mempertanyakan Kehendak dan Ketentuan Allah. Ridha aja.
Merendah aja. Termasuk minta ampun atas dosa sendiri. Jagan sampai menyalahkan keadaan dan sekitar.
Nabi Adam dulu tidak menyalahkan Hawa. Dan Hawa tidak menyalahkan Nabi Adam. Bahkan keduanya, tidak menyalahkan syetan. Lebih milih minta ampun dan rahmat-Nya saja.
Temukan Allah dan Kasih Sayang-Nya di tengah kesendirian kita , di tengah kejatuhan kita, di tengah kesusahan, kesulitan, dan kesedihan kita.
Kelak orang-orang yang doanya banyak dikabul di dunia, dikisahkan justru akan menyesal. Kenapa?
Di akhirat nanti Allah Memperlihatkan balasan-balasan kebaikan hamba2Nya ketika di dunia.
Maka seorang hamba melihat bergunung-gunung kebaikan yang tidak terhitung banyaknya. Bertanyalah ia kepada malaikat yang mengiringinya …

Gunung-gunung apakah itu?
Malaikat menjawab, itu doa-doamu yg ketika di dunia tidak dikabulkan. Siap sekarang dicairkan untuk jadi kebaikan tambahan bagimu.
 Kemarin sempat saya twit tentang meminta 2M kepada Allah. Padahal kebutuhannya, susu. Susu anak. Sisanya itu untuk kebaikan dia. Asal mintanya benar, untuk hal benar.
Allah Terlalu Kaya untuk kita mintai pas-pasan. Allah Terlalu Kuasa dengan limit yang kadang kita berikan ke Allah, tinggal sehari, seminggu, misalnya.
Tapi ya kita seharusnya juga secara akhlak harus lebih memberi kesempatan kepada Allah. Biarkan Allah Bekerja Mengatur tanpa diintervensi. Keluhan dan ketidaksabaran.
Allah sungguh sedang mengaturkan yang terbaik. Maka bersabarlah. Kehendak Allah, pastilah yang terbaik, walau hati dan pikiran, serta rasa kita, bilang pahit.
"Undzhur ilainaa… Man nahnu? Look at us… Who are we?"
Shalat selama ini ancur-ancuran. Mata, telinga, mulut, jarang dijaga. Dosa, begitu banyak …
Brsabarlah dalam berdoa dan menanti pertolongan Allah. Allah saja bersabar nunggu kita bertobat. Asli Sabar Buanget. Maka berilah Allah kesempatan.
Sekali lagi, tunjukkan ke Allah, kita ini kuat, ridha, sabar, bisa menenangkan diri, ikhlas, menjalani dulu episode yang sedang digelar Allah.
Seraya kita perbaiki ibadah kita, perbanyak doa-doa, amal saleh, dan tambah lagi ilmu kita tentang Allah, Rasul-Nya, agama-Nya, Qur’an-Nya…
InsyaaAllah… Di masa yang akan datang, orang rata-rata akan lebih banyak bersyukur diberi-Nya masalah, diberi-Nya serangkaian kesulitan.
Dan semua itu… Saya sudah mengalaminya. Makasih banyak-banyak ke Allah. Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin.
Sepenuh-penuhnya, sejangkau yang bisa saya tulis dan ceritakan, saya sebar tulisan dan tausiyah, di banyak buku, dan ceramah-ceramah. Mudah-mudahan manfaat. Saling doa ya.
Satu hal… Buat kita yang hina dina ini… Diberi kesempatan berdoa saja, sudah merupakan anugerah tiada tara… Apalagi kalau lihat kelakuan kita.
Walau saudara-saudara hafal, bukalah Qur’an, surah Yaasiin. Surah yang saudara-saudara hafal. Liat, baca, ulang berulang, 2 ayat terakhir. Kun Fayakuun…
Segera setelah tulisan ini berakhir, segera buka Qur’an. Langsung berinteraksi dengan Kitab aslinya. Baca terjemahan 2 ayat terakhir Surah Yaasiin. Jangan ditunda.
Salam hormat buat keluarga di rumah. Saya juga lagi butuh doa banget-banget dari kawan-kawan. Supaya sisa hidup ini benar-benar bermanfaat, dalam keadaan Allah Ridho, amiin :)


*di kutip dari karya Ust.Yusuf Mansyur

Bila Al Qur'an bicara !


Waktu engkau masih kanak-kanak, kau laksana kawan sejatiku
Dengan wudhu' aku kau sentuh dalam keadaan suci
Aku kau pegang, kau junjung dan kau pelajari
Aku engkau baca dengan suara lirih ataupun keras setiap hari
Setelah usai engkaupun selalu menciumku mesra

Sekarang engkau telah dewasa...
Nampaknya kau sudah tak berminat lagi padaku...
Apakah aku bacaan usang yang tinggal sejarah...
Menurutmu barangkali aku bacaan yang tidak menambah pengetahuanmu
Atau menurutmu aku hanya untuk anak kecil yang belajar mengaji saja?
 
Sekarang aku engkau simpan rapi sekali hingga kadang engkau lupa dimana menyimpannya
Aku sudah engkau anggap hanya sebagai perhiasan rumahmu
Kadangkala aku dijadikan mas kawin agar engkau dianggap bertaqwa
Atau aku kau buat penangkal untuk menakuti hantu dan syetan
Kini aku lebih banyak tersingkir, dibiarkan dalam kesendirian dalam kesepian
Di atas lemari, di dalam laci, aku engkau pendamkan.

Dulu...pagi-pagi...surah-surah yang ada padaku engkau baca beberapa halaman
Sore harinya aku kau baca beramai-ramai bersama temanmu di surau.....

Sekarang... pagi-pagi sambil minum kopi...engkau baca Koran pagi atau nonton berita TV
Waktu senggang..engkau sempatkan membaca buku karangan manusia
Sedangkan aku yang berisi ayat-ayat yang datang dari Allah Yang Maha Perkasa.
Engkau campakkan, engkau abaikan dan engkau lupakan... 

Waktu berangkat kerjapun kadang engkau lupa baca pembuka surahku (Basmalah)
Diperjalanan engkau lebih asyik menikmati musik duniawi
Tidak ada kaset yang berisi ayat Alloh yang terdapat padaku di laci mobilmu
Sepanjang perjalanan radiomu selalu tertuju ke stasiun radio favoritmu
Aku tahu kalau itu bukan Stasiun Radio yang senantiasa melantunkan ayatku

Di meja kerjamu tidak ada aku untuk kau baca sebelum kau mulai kerja
Di Komputermu pun kau putar musik favoritmu
Jarang sekali engkau putar ayat-ayatku melantun
E-mail temanmu yang ada ayat-ayatkupun kadang kau abaikan
Engkau terlalu sibuk dengan urusan duniamu

Benarlah dugaanku bahwa engkau kini sudah benar-benar melupakanku
Bila malam tiba engkau tahan nongkrong berjam-jam di depan TV
Menonton pertandingan Liga Italia , musik atau Film dan Sinetron laga
Di depan komputer berjam-jam engkau betah duduk
Hanya sekedar membaca berita murahan dan gambar sampah

Waktupun cepat berlalu...aku menjadi semakin kusam dalam lemari
Mengumpul debu dilapisi abu dan mungkin dimakan kutu
Seingatku hanya awal Ramadhan engkau membacaku kembali
Itupun hanya beberapa lembar dariku
Dengan suara dan lafadz yang tidak semerdu dulu
Engkaupun kini terbata-bata dan kurang lancar lagi setiap membacaku.

Apakah Koran, TV, radio , komputer, dapat memberimu pertolongan ? Bila
engkau di kubur sendirian menunggu sampai kiamat tiba Engkau akan
diperiksa oleh para malaikat suruhanNya
Hanya dengan ayat-ayat Allah yang ada padaku engkau dapat selamat melaluinya. 


Sekarang engkau begitu enteng membuang waktumu...
Setiap saat berlalu...kuranglah jatah umurmu...
Dan akhirnya kubur sentiasa menunggu kedatanganmu..
Engkau bisa kembali kepada Tuhanmu sewaktu-waktu
Apabila malaikat maut mengetuk pintu rumahmu.

Bila aku engkau baca selalu dan engkau hayati...
Di kuburmu nanti....
Aku akan datang sebagai pemuda gagah nan tampan
Yang akan membantu engkau membela diri
Bukan koran yang engkau baca yang akan membantumu Dari perjalanan di alam akhirat
Tapi Akulah "Qur'an" kitab sucimu
Yang senantiasa setia menemani dan melindungimu

Peganglah aku lagi . . bacalah kembali aku setiap hari
Karena ayat-ayat yang ada padaku adalah ayat suci
Yang berasal dari Alloh, Tuhan Yang Maha Mengetahui
Yang disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad Rasulullah.

Keluarkanlah segera aku dari lemari atau lacimu...
Jangan lupa bawa kaset yang ada ayatku dalam laci mobilmu
Letakkan aku selalu di depan meja kerjamu
Agar engkau senantiasa mengingat Tuhanmu

Sentuhilah aku kembali...
Baca dan pelajari lagi aku....
Setiap datangnya pagi dan sore hari
Seperti dulu....dulu sekali...
Waktu engkau masih kecil , lugu dan polos...
Di surau kecil kampungmu yang damai
Jangan aku engkau biarkan sendiri....
Dalam bisu dan sepi....
Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. 

BERSYUKUR :))


AKU TAK SELALU MENDAPATKAN APA YANG KUSUKAI, OLEH KARENA ITU AKU SELALU MENYUKAI APAPUN YANG AKU DAPATKAN.

Kata-kata diatas merupakan wujud syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai,tentram dan bahagia.

Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita.
Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.

Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur. Pertama : Kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki.
Katakanlah anda telah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang terbaik.  Tapi anda masih merasa kurang.
Pikiran anda dipenuhi berbagai target dan keinginan. Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah,mobil mewah, serta pekerjaan yang  mendatangkan lebih banyak uang.
Kita ingin ini dan itu.  Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya.
Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan sesaat.
Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi. Jadi, betapapun banyaknya harta yang kita miliki, kita tak pernah menjadi "KAYA" dalam arti yang sesungguhnya.

Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang ''kaya''. Orang yang ''kaya'' bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki. Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan,tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak tenteram.
Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki.
Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dan syukurilah.
Anda akan merasakan nikmatnya hidup. Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik atasan, pasangan, dan orang-orang di sekitar Anda.
Mereka akan menjadi lebih menyenangkan.
Seorang pengarang pernah mengatakan, ''Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi.'' Ini perwujudan rasa syukur.

Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak.
Suatu sore ia  melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria.
Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.

Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain.
Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih
pandai,lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita.

Saya ingat, pertama kali bekerja saya senantiasa membandingkan penghasilan saya dengan rekan-rekan semasa kuliah.
Perasaan ini membuat saya resah dan gelisah.
Sebagai mantan mahasiswa teladan di kampus, saya merasa gelisah setiap mengetahui ada kawan satu angkatan yang memperoleh penghasilan diatas saya.
Nyatanya, selalu saja ada kawan yang penghasilannya melebihi saya.
Saya menjadi gemar bergonta-ganti pekerjaan, hanya untuk mengimbangi rekan-rekan saya. Saya bahkan tak peduli dengan jenis pekerjaannya, yang penting gajinya lebih besar.
Sampai akhirnya saya sadar bahwa hal ini tak akan pernah ada habisnya.
Saya berubah dan mulai mensyukuri apa yang saya dapatkan.
Kini saya sangat menikmati pekerjaan saya.
Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput dipekarangan sendiri.
 Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa.
Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, ''Lulu, Lulu.''
Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini.
Si dokter menjawab, ''Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu.'' Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia terkejut melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak, ''Lulu, Lulu''. ''Orang ini juga punya masalah dengan Lulu? '' tanyanya keheranan. Dokter kemudian menjawab, ''Ya, dialah yang akhirnya
menikah dengan Lulu.''

Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki.
Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi.
Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan cerita mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia. Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab, ''Saya mempunyai dua anak laki-laki.
Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup ditanah seberang.
Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga.''

Bersyukurlah !

Bersyukurlah bahwa kamu belum siap memiliki segala sesuatu yang kamu inginkan ....  Seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan ?

Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu ...
Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar ...

Bersyukurlah untuk masa-masa sulit ...
Di masa itulah kamu tumbuh ...

Bersyukurlah untuk keterbatasanmu ...
Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang ...

Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru ...
Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu ...

Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat ...
Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga ...

Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih ...
Karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan ...

Mungkin mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal yang baik...
Hidup yang berkelimpahan datang pada mereka yang juga bersyukur akan masa surut...

Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif ...
Temukan cara bersyukur akan masalah-masalahmu dan semua itu akan  menjadi berkah bagimu ...



Aku di Makamkan Hari Ini


Perlahan, tubuhku ditutup tanah,
perlahan, semua pergi meninggalkanku,
masih terdengar jelas langkah langkah terakhir
mereka aku sendirian, di tempat gelap yang tak pernah terbayang,
sendiri, menunggu keputusan...

Istri, belahan hati, belahan jiwa pun pergi,
Anak, yang di tubuhnya darahku mengalir, tak juga tinggal,
Apatah lagi sekedar tangan kanan, kawan dekat,
rekan bisnis, atau orang-orang lain,
aku bukan siapa-siapa lagi bagi mereka.

Istriku menangis, sangat pedih, aku pun demikian,
Anakku menangis, tak kalah sedih, dan aku juga,
Tangan kananku menghibur mereka,
kawan dekatku berkirim bunga dan ucapan,
tetapi aku tetap sendiri, disini,
menunggu perhitungan ...

Menyesal sudah tak mungkin,
Tobat tak lagi dianggap,
dan ma'af pun tak bakal didengar,
aku benar-benar harus sendiri...

Tuhanku,
(entah dari mana kekuatan itu datang,
setelah sekian lama aku tak lagi dekat dengan-Nya)
jika kau beri aku satu lagi kesempatan,
jika kau pinjamkan lagi beberapa hari milik-Mu,
beberapa hari saja...

Aku harus berkeliling, memohon ma'af pada mereka,
yang selama ini telah merasakan zalimku,
yang selama ini sengsara karena aku,
yang tertindas dalam kuasaku.
yang selama ini telah aku sakiti hati nya
yang selama ini telah aku bohongi

Aku harus kembalikan, semua harta kotor ini,
yang kukumpulkan dengan wajah gembira,
yang kukuras dari sumber yang tak jelas,
yang kumakan, bahkan yang kutelan.
Aku harus tuntaskan janji janji palsu yg sering
kuumbar dulu

Dan Tuhan,
beri lagi aku beberapa hari milik-Mu,
untuk berbakti kepada ayah dan ibu tercinta,
teringat kata kata kasar dan keras yg menyakitkan
hati mereka,
maafkan aku ayah dan ibu,
mengapa tak kusadari betapa besar kasih sayang mu
beri juga aku waktu,
untuk berkumpul dengan istri dan anakku,
untuk sungguh sungguh beramal soleh ,
Aku sungguh ingin bersujud dihadap-Mu,
bersama mereka...

begitu sesal diri ini
karena hari hari telah berlalu tanpa makna
penuh kesia-siaan
kesenangan yg pernah kuraih dulu, tak ada artinya
sama sekali mengapa ku sia sia saja, waktu hidup
yg hanya sekali itu
andai ku bisa putar ulang waktu itu...

Aku dimakamkan hari ini,
dan semua menjadi tak terma'afkan,
dan semua menjadi terlambat,
dan aku harus sendiri,
untuk waktu yang tak terbayangkan...

7 Fadhilah Sholat Dhuha Yang Harus Diketahui




Shalat merupakan kunci diterima atau ditolaknya keseluruhan ibadah yang 

telah dilakukan seorang mukmin. Dalam sebuah hadits diterangkan bahwa 

yang pertama dihisab oleh Allah Swt. dari amal seorang hamba pada hari 

kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya.

 Sebaliknya, jika shalatnya rusak, maka seluruh amalnya juga akan turut

 rusak. 

Karenanya, shalat yang kita kerjakan harus benar-benar terjaga 

kesempurnaannya. Salah satu cara menyempurnakan shalat wajib adalah 

dengan melaksanakan shalat sunat.


Banyak sekali pilihan shalat sunat yang dapat kita kerjakan untuk 

menyempurnakan pahala shalat wajib yang telah kita kerjakan. Sebut saja

 shalat sunat rawatib yang biasa kita kerjakan sebelum dan setelah 

mengerjakan

shalat lima waktu. Selain shalat sunat rawatib, kita juga mengenal banyak 

sekali jenis shalat sunat di antaranya adalah Tahiyatul Masjid, Syukrul 

Wudhu, Tahajud, Witir, serta Dhuha. Yang disebutkan terakhir kerap 

terlupakan karena meski kita tahu fadhilahnya tapi karena waktu 

pelaksanaannya bertepatan dengan dimulainya aktivitas harian, maka shalat

 Dhuha sering tidak dikerjakan.



Ya, shalat Dhuha ialah shalat sunat yang dikerjakan pada waktu matahari 

sedang naik, yaitu kira-kira setinggi lebih kurang 7 (tujuh) hasta atau sekitar 

setinggi satu tombak, antara pukul 08.00 pagi sampai dengan masuk waktu 

Dzuhur (sekitar pukul 11.00 siang).

Shalat Dhuha hukumnya sunat muakad (sangat dianjurkan dan mendekati 

wajib) karena Rasulullah senantiasa mengerjakannya dan berpesan kepada 

para sahabat untuk mengerjakannya juga. Shalat Dhuha juga merupakan 

wasiat Rasul kepada umatnya sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits. 

“Abu Hurairah r.a. menceritakan, ‘Kekasihku Rasulullah Saw. memberi wasiat 

kepadaku dengan tiga hal yang tidak pernah kutinggalkan hingga meninggal 

dunia: shaum tiga hari dalam sebulan, dua rakaat shalat Dhuha, dan hanya

 tidur setelah melakukan shalat Witir” (H.R. Bukhari dan Muslim

Tentu saja, Rasulullah Saw. tidak akan mengistimewakan shalat Dhuha tanpa

 alasan. Berikut beberapa fadhilah atau keutamaan shalat Dhuha yang

 menjadikannya begitu istimewa di mata Rasullah Saw.



Pertama, shalat Dhuha merupakan ekspresi terima kasih kita kepada Allah 

Swt. atas nikmat sehat bugarnya setiap sendi dalam tubuh kita. Menurut 

Rasulullah Saw., setiap sendi dalam tubuh kita yang jumlahnya 360 ruas 

setiap harinya harus diberi sedekah sebagai makanannya.

“Pada setiap manusia diciptakan 360 persendian dan seharusnya orang yang 

bersangkutan (pemilik sendi) bersedekah untuk setiap sendinya.” Lalu, para 

sahabat bertanya, “Ya Rasulullah Saw., siapa yang sanggup melakukannya?” 

Rasulullah Saw. menjelaskan, “Membersihkan kotoran yang ada di masjid atau

 menyingkirkan sesuatu (yang dapat mencelakakan orang) dari jalan raya,

 apabila ia tidak mampu maka shalat Dhuha dua rakaat dapat 

menggantikannya.” (H.R. Ahmad dan Abu Daud)



Kedua, shalat Dhuha merupakan wahana pengharapan kita akan rahmat dan 

nikmat Allah Swt. sepanjang hari yang akan dilalui, entah berupa nikmat 

fisik maupun materi. Rasulullah Saw. bersabda, “Allah berfirman, ‘Wahai anak 

Adam, jangan sekali-kali engkau malas melakukan shalat empat rakaat pada 

pagi hari, yaitu shalat Dhuha, niscaya nanti akan Kucukupi kebutuhanmu 

hingga sore harinya.’” (H.R. Al-Hakim dan At-Tabrani)


Lebih dari itu, momen shalat Dhuha merupakan saat kita mengisi kembali 

semangat hidup baru. Kita berharap semoga hari yang akan kita lalui menjadi 

hari yang lebih baik dari hari kemarin. Di sinilah ruang kita menanam 

optimisme hidup. Kita tidak sendiri menjalani hidup ini. Ada Sang 

Maharahman yang senantiasa akan menemani kita dalam menjalani hidup 

sehari-hari.


Ketiga, shalat Dhuha sebagai pelindung untuk menangkal siksa api neraka di 

hari pembalasan (kiamat) nanti. Hal ini ditegaskan Nabi Saw. dalam 

haditsnya, “Barangsiapa melakukan shalat Fajar, kemudian ia tetap duduk di 

tempat shalatnya sambil berdzikir hingga matahari terbit dan kemudian ia 

melaksanakan shalat Dhuha sebanyak dua rakaat, niscaya Allah Swt. akan 

mengharamkan api neraka untuk menyentuh atau membakar tubuhnya.” (H.R. 

Al-Baihaqi)



Keempat, bagi orang yang merutinkan shalat Dhuha, niscaya Allah 

mengganjarnya dengan balasan surga. Rasulullah Saw. bersabda, “Di dalam 

surga terdapat pintu yang bernama Bab Adh-Dhuha (Pintu Dhuha) dan pada 

hari kiamat nanti ada yang akan memanggil, ‘Dimana orang yang senantiasa 

mengerjakan shalat Dhuha? Ini pintu kamu, masuklah dengan kasih sayang 

Allah.’” (H.R. At-Tabrani)



Kelima, pahala shalat Dhuha setara dengan pahala ibadah haji dan umrah. 

“Dari Abu Umamah r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, ‘Barangsiapa yang 

keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci untuk melaksanakan shalat 

wajib, maka pahalanya seperti seorang yang melaksanakan haji. Barangsiapa 

yang keluar untuk melaksanakan shalat Dhuha, maka pahalanya seperti orang 

yang melaksanakan umrah.’” (Shahih Al-Targhib: 673). Dalam sebuah hadits 

yang lain disebutkan bahwa, “Nabi Saw. bersabda, ‘Barangsiapa yang 

mengerjakan shalat Fajar (Shubuh) berjamaah, kemudian ia (setelah usai) 

duduk mengingat Allah hingga terbit matahari, lalu ia shalat dua rakaat 

(Dhuha), ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah; sempurna, 

sempurna, sempurna.’” (Shahih Al-Jami: 6346)



Keenam, tercukupinya kebutuhan hidup. Orang yang gemar 

melaksanakan shalat Dhuha ikhlas karena Allah akan tercukupi rezekinya. Hal 

ini dijelaskan Rasulullah Saw. dalam hadits qudsi dari Abu Darda. Firman-

Nya, 

“Wahai Anak Adam, rukuklah (shalatlah) karena aku pada awal siang (shalat 

Dhuha) empat rakaat, maka aku akan mencukupi (kebutuhan)mu sampai sore 

hari.” (H.R. Tirmidzi)



Ketujuh, memperoleh ghanimah (keuntungan) yang besar. Dikisahkan, 

Rasulullah mengutus pasukan muslim berperang melawan musuh Allah. Atas 

kehendak Allah, peperangan pun dimenangkan dan pasukan tersebut 

mendapat harta rampasan yang berlimpah. Orang-orang pun ramai 

membicarakan singkatnya peperangan yang dimenangkan dan banyaknya 

harta rampasan perang yang diperoleh. Kemudian Rasulullah Saw. 

menjelaskan  bahwa ada yang lebih utama dan lebih baik dari mudahnya 

memperoleh kemenangan dan harta rampasan yang banyak yaitu shalat 

Dhuha.


“Dari Abdullah bin Amr bin Ash ia berkata, Rasulullah Saw. mengirim pasukan 

perang. Lalu, pasukan itu mendapat harta rampasan perang yang banyak dan 

cepat kembali (dari medan perang). Orang-orang pun (ramai) 

memperbincangkan cepat selesainya perang, banyaknya harta rampasan, dan 

cepat kembalinya mereka. Maka, Rasulullah Saw. bersabda, ‘Maukah aku 

tunjukan kepada kalian sesuatu yang lebih cepat dari selesai perangnya, 

lebih banyak (memperoleh) harta rampasan, dan cepatnya kembali (dari 

medan perang)? (Yaitu) orang yang berwudhu kemudian menuju masjid untuk 

mengerjakan shalat sunat Dhuha. Dialah yang lebih cepat selesai perangnya, 

lebih banyak (memperoleh) harta rampasan, dan lebih cepat kembalinya.’”

 (H.R. Ahmad)

Menilik banyaknya fadhilah di atas, cukup beralasan kiranya bila Nabi Saw. 

menghimbau umatnya untuk senantiasa membiasakan diri melaksanakan 

shalat  Dhuha. Dengan mengetahui fadhilah-fadhilah tersebut, diharapkan 

kita lebih  termotivasi untuk beristiqamah melaksanakan shalat Dhuha agar 

tercapai tujuan bahagia dunia dan akhirat. Amin.