7 Fadhilah Sholat Dhuha Yang Harus Diketahui
Diposting oleh
Unknown
on Selasa, 03 Desember 2013
Label:
• manfaat :))
Shalat merupakan kunci diterima atau ditolaknya keseluruhan ibadah yang
telah dilakukan seorang mukmin. Dalam sebuah hadits diterangkan bahwa
yang pertama dihisab oleh Allah Swt. dari amal seorang hamba pada hari
kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya.
Sebaliknya, jika shalatnya rusak, maka seluruh amalnya juga akan turut
rusak.
Karenanya, shalat yang kita kerjakan harus benar-benar terjaga
kesempurnaannya. Salah satu cara menyempurnakan shalat wajib adalah
dengan melaksanakan shalat sunat.
Banyak sekali pilihan shalat sunat yang dapat kita kerjakan untuk
menyempurnakan pahala shalat wajib yang telah kita kerjakan. Sebut saja
shalat sunat rawatib yang biasa kita kerjakan sebelum dan setelah
mengerjakan
shalat lima waktu. Selain shalat sunat rawatib, kita juga mengenal banyak
sekali jenis shalat sunat di antaranya adalah Tahiyatul Masjid, Syukrul
Wudhu, Tahajud, Witir, serta Dhuha. Yang disebutkan terakhir kerap
terlupakan karena meski kita tahu fadhilahnya tapi karena waktu
pelaksanaannya bertepatan dengan dimulainya aktivitas harian, maka shalat
Dhuha sering tidak dikerjakan.
Ya, shalat Dhuha ialah shalat sunat yang dikerjakan pada waktu matahari
sedang naik, yaitu kira-kira setinggi lebih kurang 7 (tujuh) hasta atau sekitar
setinggi satu tombak, antara pukul 08.00 pagi sampai dengan masuk waktu
Dzuhur (sekitar pukul 11.00 siang).
Shalat Dhuha hukumnya sunat muakad (sangat dianjurkan dan mendekati
wajib) karena Rasulullah senantiasa mengerjakannya dan berpesan kepada
para sahabat untuk mengerjakannya juga. Shalat Dhuha juga merupakan
wasiat Rasul kepada umatnya sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits.
“Abu Hurairah r.a. menceritakan, ‘Kekasihku Rasulullah Saw. memberi wasiat
kepadaku dengan tiga hal yang tidak pernah kutinggalkan hingga meninggal
dunia: shaum tiga hari dalam sebulan, dua rakaat shalat Dhuha, dan hanya
tidur setelah melakukan shalat Witir” (H.R. Bukhari dan Muslim
Tentu saja, Rasulullah Saw. tidak akan mengistimewakan shalat Dhuha tanpa
alasan. Berikut beberapa fadhilah atau keutamaan shalat Dhuha yang
menjadikannya begitu istimewa di mata Rasullah Saw.
Pertama, shalat Dhuha merupakan ekspresi terima kasih kita kepada Allah
Swt. atas nikmat sehat bugarnya setiap sendi dalam tubuh kita. Menurut
Rasulullah Saw., setiap sendi dalam tubuh kita yang jumlahnya 360 ruas
setiap harinya harus diberi sedekah sebagai makanannya.
“Pada setiap manusia diciptakan 360 persendian dan seharusnya orang yang
bersangkutan (pemilik sendi) bersedekah untuk setiap sendinya.” Lalu, para
sahabat bertanya, “Ya Rasulullah Saw., siapa yang sanggup melakukannya?”
Rasulullah Saw. menjelaskan, “Membersihkan kotoran yang ada di masjid atau
menyingkirkan sesuatu (yang dapat mencelakakan orang) dari jalan raya,
apabila ia tidak mampu maka shalat Dhuha dua rakaat dapat
menggantikannya.” (H.R. Ahmad dan Abu Daud)
Kedua, shalat Dhuha merupakan wahana pengharapan kita akan rahmat dan
nikmat Allah Swt. sepanjang hari yang akan dilalui, entah berupa nikmat
fisik maupun materi. Rasulullah Saw. bersabda, “Allah berfirman, ‘Wahai anak
Adam, jangan sekali-kali engkau malas melakukan shalat empat rakaat pada
pagi hari, yaitu shalat Dhuha, niscaya nanti akan Kucukupi kebutuhanmu
hingga sore harinya.’” (H.R. Al-Hakim dan At-Tabrani)
Lebih dari itu, momen shalat Dhuha merupakan saat kita mengisi kembali
semangat hidup baru. Kita berharap semoga hari yang akan kita lalui menjadi
hari yang lebih baik dari hari kemarin. Di sinilah ruang kita menanam
optimisme hidup. Kita tidak sendiri menjalani hidup ini. Ada Sang
Maharahman yang senantiasa akan menemani kita dalam menjalani hidup
sehari-hari.
Ketiga, shalat Dhuha sebagai pelindung untuk menangkal siksa api neraka di
hari pembalasan (kiamat) nanti. Hal ini ditegaskan Nabi Saw. dalam
haditsnya, “Barangsiapa melakukan shalat Fajar, kemudian ia tetap duduk di
tempat shalatnya sambil berdzikir hingga matahari terbit dan kemudian ia
melaksanakan shalat Dhuha sebanyak dua rakaat, niscaya Allah Swt. akan
mengharamkan api neraka untuk menyentuh atau membakar tubuhnya.” (H.R.
Al-Baihaqi)
Keempat, bagi orang yang merutinkan shalat Dhuha, niscaya Allah
mengganjarnya dengan balasan surga. Rasulullah Saw. bersabda, “Di dalam
surga terdapat pintu yang bernama Bab Adh-Dhuha (Pintu Dhuha) dan pada
hari kiamat nanti ada yang akan memanggil, ‘Dimana orang yang senantiasa
mengerjakan shalat Dhuha? Ini pintu kamu, masuklah dengan kasih sayang
Allah.’” (H.R. At-Tabrani)
Kelima, pahala shalat Dhuha setara dengan pahala ibadah haji dan umrah.
“Dari Abu Umamah r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, ‘Barangsiapa yang
keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci untuk melaksanakan shalat
wajib, maka pahalanya seperti seorang yang melaksanakan haji. Barangsiapa
yang keluar untuk melaksanakan shalat Dhuha, maka pahalanya seperti orang
yang melaksanakan umrah.’” (Shahih Al-Targhib: 673). Dalam sebuah hadits
yang lain disebutkan bahwa, “Nabi Saw. bersabda, ‘Barangsiapa yang
mengerjakan shalat Fajar (Shubuh) berjamaah, kemudian ia (setelah usai)
duduk mengingat Allah hingga terbit matahari, lalu ia shalat dua rakaat
(Dhuha), ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah; sempurna,
sempurna, sempurna.’” (Shahih Al-Jami: 6346)
Keenam, tercukupinya kebutuhan hidup. Orang yang gemar
melaksanakan shalat Dhuha ikhlas karena Allah akan tercukupi rezekinya. Hal
ini dijelaskan Rasulullah Saw. dalam hadits qudsi dari Abu Darda. Firman-
Nya,
“Wahai Anak Adam, rukuklah (shalatlah) karena aku pada awal siang (shalat
Dhuha) empat rakaat, maka aku akan mencukupi (kebutuhan)mu sampai sore
hari.” (H.R. Tirmidzi)
Ketujuh, memperoleh ghanimah (keuntungan) yang besar. Dikisahkan,
Rasulullah mengutus pasukan muslim berperang melawan musuh Allah. Atas
kehendak Allah, peperangan pun dimenangkan dan pasukan tersebut
mendapat harta rampasan yang berlimpah. Orang-orang pun ramai
membicarakan singkatnya peperangan yang dimenangkan dan banyaknya
harta rampasan perang yang diperoleh. Kemudian Rasulullah Saw.
menjelaskan bahwa ada yang lebih utama dan lebih baik dari mudahnya
memperoleh kemenangan dan harta rampasan yang banyak yaitu shalat
Dhuha.
“Dari Abdullah bin Amr bin Ash ia berkata, Rasulullah Saw. mengirim pasukan
perang. Lalu, pasukan itu mendapat harta rampasan perang yang banyak dan
cepat kembali (dari medan perang). Orang-orang pun (ramai)
memperbincangkan cepat selesainya perang, banyaknya harta rampasan, dan
cepat kembalinya mereka. Maka, Rasulullah Saw. bersabda, ‘Maukah aku
tunjukan kepada kalian sesuatu yang lebih cepat dari selesai perangnya,
lebih banyak (memperoleh) harta rampasan, dan cepatnya kembali (dari
medan perang)? (Yaitu) orang yang berwudhu kemudian menuju masjid untuk
mengerjakan shalat sunat Dhuha. Dialah yang lebih cepat selesai perangnya,
lebih banyak (memperoleh) harta rampasan, dan lebih cepat kembalinya.’”
(H.R. Ahmad)
Menilik banyaknya fadhilah di atas, cukup beralasan kiranya bila Nabi Saw.
menghimbau umatnya untuk senantiasa membiasakan diri melaksanakan
shalat Dhuha. Dengan mengetahui fadhilah-fadhilah tersebut, diharapkan
kita lebih termotivasi untuk beristiqamah melaksanakan shalat Dhuha agar
tercapai tujuan bahagia dunia dan akhirat. Amin.


0 komentar:
Posting Komentar