7 Fadhilah Sholat Dhuha Yang Harus Diketahui




Shalat merupakan kunci diterima atau ditolaknya keseluruhan ibadah yang 

telah dilakukan seorang mukmin. Dalam sebuah hadits diterangkan bahwa 

yang pertama dihisab oleh Allah Swt. dari amal seorang hamba pada hari 

kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya.

 Sebaliknya, jika shalatnya rusak, maka seluruh amalnya juga akan turut

 rusak. 

Karenanya, shalat yang kita kerjakan harus benar-benar terjaga 

kesempurnaannya. Salah satu cara menyempurnakan shalat wajib adalah 

dengan melaksanakan shalat sunat.


Banyak sekali pilihan shalat sunat yang dapat kita kerjakan untuk 

menyempurnakan pahala shalat wajib yang telah kita kerjakan. Sebut saja

 shalat sunat rawatib yang biasa kita kerjakan sebelum dan setelah 

mengerjakan

shalat lima waktu. Selain shalat sunat rawatib, kita juga mengenal banyak 

sekali jenis shalat sunat di antaranya adalah Tahiyatul Masjid, Syukrul 

Wudhu, Tahajud, Witir, serta Dhuha. Yang disebutkan terakhir kerap 

terlupakan karena meski kita tahu fadhilahnya tapi karena waktu 

pelaksanaannya bertepatan dengan dimulainya aktivitas harian, maka shalat

 Dhuha sering tidak dikerjakan.



Ya, shalat Dhuha ialah shalat sunat yang dikerjakan pada waktu matahari 

sedang naik, yaitu kira-kira setinggi lebih kurang 7 (tujuh) hasta atau sekitar 

setinggi satu tombak, antara pukul 08.00 pagi sampai dengan masuk waktu 

Dzuhur (sekitar pukul 11.00 siang).

Shalat Dhuha hukumnya sunat muakad (sangat dianjurkan dan mendekati 

wajib) karena Rasulullah senantiasa mengerjakannya dan berpesan kepada 

para sahabat untuk mengerjakannya juga. Shalat Dhuha juga merupakan 

wasiat Rasul kepada umatnya sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits. 

“Abu Hurairah r.a. menceritakan, ‘Kekasihku Rasulullah Saw. memberi wasiat 

kepadaku dengan tiga hal yang tidak pernah kutinggalkan hingga meninggal 

dunia: shaum tiga hari dalam sebulan, dua rakaat shalat Dhuha, dan hanya

 tidur setelah melakukan shalat Witir” (H.R. Bukhari dan Muslim

Tentu saja, Rasulullah Saw. tidak akan mengistimewakan shalat Dhuha tanpa

 alasan. Berikut beberapa fadhilah atau keutamaan shalat Dhuha yang

 menjadikannya begitu istimewa di mata Rasullah Saw.



Pertama, shalat Dhuha merupakan ekspresi terima kasih kita kepada Allah 

Swt. atas nikmat sehat bugarnya setiap sendi dalam tubuh kita. Menurut 

Rasulullah Saw., setiap sendi dalam tubuh kita yang jumlahnya 360 ruas 

setiap harinya harus diberi sedekah sebagai makanannya.

“Pada setiap manusia diciptakan 360 persendian dan seharusnya orang yang 

bersangkutan (pemilik sendi) bersedekah untuk setiap sendinya.” Lalu, para 

sahabat bertanya, “Ya Rasulullah Saw., siapa yang sanggup melakukannya?” 

Rasulullah Saw. menjelaskan, “Membersihkan kotoran yang ada di masjid atau

 menyingkirkan sesuatu (yang dapat mencelakakan orang) dari jalan raya,

 apabila ia tidak mampu maka shalat Dhuha dua rakaat dapat 

menggantikannya.” (H.R. Ahmad dan Abu Daud)



Kedua, shalat Dhuha merupakan wahana pengharapan kita akan rahmat dan 

nikmat Allah Swt. sepanjang hari yang akan dilalui, entah berupa nikmat 

fisik maupun materi. Rasulullah Saw. bersabda, “Allah berfirman, ‘Wahai anak 

Adam, jangan sekali-kali engkau malas melakukan shalat empat rakaat pada 

pagi hari, yaitu shalat Dhuha, niscaya nanti akan Kucukupi kebutuhanmu 

hingga sore harinya.’” (H.R. Al-Hakim dan At-Tabrani)


Lebih dari itu, momen shalat Dhuha merupakan saat kita mengisi kembali 

semangat hidup baru. Kita berharap semoga hari yang akan kita lalui menjadi 

hari yang lebih baik dari hari kemarin. Di sinilah ruang kita menanam 

optimisme hidup. Kita tidak sendiri menjalani hidup ini. Ada Sang 

Maharahman yang senantiasa akan menemani kita dalam menjalani hidup 

sehari-hari.


Ketiga, shalat Dhuha sebagai pelindung untuk menangkal siksa api neraka di 

hari pembalasan (kiamat) nanti. Hal ini ditegaskan Nabi Saw. dalam 

haditsnya, “Barangsiapa melakukan shalat Fajar, kemudian ia tetap duduk di 

tempat shalatnya sambil berdzikir hingga matahari terbit dan kemudian ia 

melaksanakan shalat Dhuha sebanyak dua rakaat, niscaya Allah Swt. akan 

mengharamkan api neraka untuk menyentuh atau membakar tubuhnya.” (H.R. 

Al-Baihaqi)



Keempat, bagi orang yang merutinkan shalat Dhuha, niscaya Allah 

mengganjarnya dengan balasan surga. Rasulullah Saw. bersabda, “Di dalam 

surga terdapat pintu yang bernama Bab Adh-Dhuha (Pintu Dhuha) dan pada 

hari kiamat nanti ada yang akan memanggil, ‘Dimana orang yang senantiasa 

mengerjakan shalat Dhuha? Ini pintu kamu, masuklah dengan kasih sayang 

Allah.’” (H.R. At-Tabrani)



Kelima, pahala shalat Dhuha setara dengan pahala ibadah haji dan umrah. 

“Dari Abu Umamah r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, ‘Barangsiapa yang 

keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci untuk melaksanakan shalat 

wajib, maka pahalanya seperti seorang yang melaksanakan haji. Barangsiapa 

yang keluar untuk melaksanakan shalat Dhuha, maka pahalanya seperti orang 

yang melaksanakan umrah.’” (Shahih Al-Targhib: 673). Dalam sebuah hadits 

yang lain disebutkan bahwa, “Nabi Saw. bersabda, ‘Barangsiapa yang 

mengerjakan shalat Fajar (Shubuh) berjamaah, kemudian ia (setelah usai) 

duduk mengingat Allah hingga terbit matahari, lalu ia shalat dua rakaat 

(Dhuha), ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah; sempurna, 

sempurna, sempurna.’” (Shahih Al-Jami: 6346)



Keenam, tercukupinya kebutuhan hidup. Orang yang gemar 

melaksanakan shalat Dhuha ikhlas karena Allah akan tercukupi rezekinya. Hal 

ini dijelaskan Rasulullah Saw. dalam hadits qudsi dari Abu Darda. Firman-

Nya, 

“Wahai Anak Adam, rukuklah (shalatlah) karena aku pada awal siang (shalat 

Dhuha) empat rakaat, maka aku akan mencukupi (kebutuhan)mu sampai sore 

hari.” (H.R. Tirmidzi)



Ketujuh, memperoleh ghanimah (keuntungan) yang besar. Dikisahkan, 

Rasulullah mengutus pasukan muslim berperang melawan musuh Allah. Atas 

kehendak Allah, peperangan pun dimenangkan dan pasukan tersebut 

mendapat harta rampasan yang berlimpah. Orang-orang pun ramai 

membicarakan singkatnya peperangan yang dimenangkan dan banyaknya 

harta rampasan perang yang diperoleh. Kemudian Rasulullah Saw. 

menjelaskan  bahwa ada yang lebih utama dan lebih baik dari mudahnya 

memperoleh kemenangan dan harta rampasan yang banyak yaitu shalat 

Dhuha.


“Dari Abdullah bin Amr bin Ash ia berkata, Rasulullah Saw. mengirim pasukan 

perang. Lalu, pasukan itu mendapat harta rampasan perang yang banyak dan 

cepat kembali (dari medan perang). Orang-orang pun (ramai) 

memperbincangkan cepat selesainya perang, banyaknya harta rampasan, dan 

cepat kembalinya mereka. Maka, Rasulullah Saw. bersabda, ‘Maukah aku 

tunjukan kepada kalian sesuatu yang lebih cepat dari selesai perangnya, 

lebih banyak (memperoleh) harta rampasan, dan cepatnya kembali (dari 

medan perang)? (Yaitu) orang yang berwudhu kemudian menuju masjid untuk 

mengerjakan shalat sunat Dhuha. Dialah yang lebih cepat selesai perangnya, 

lebih banyak (memperoleh) harta rampasan, dan lebih cepat kembalinya.’”

 (H.R. Ahmad)

Menilik banyaknya fadhilah di atas, cukup beralasan kiranya bila Nabi Saw. 

menghimbau umatnya untuk senantiasa membiasakan diri melaksanakan 

shalat  Dhuha. Dengan mengetahui fadhilah-fadhilah tersebut, diharapkan 

kita lebih  termotivasi untuk beristiqamah melaksanakan shalat Dhuha agar 

tercapai tujuan bahagia dunia dan akhirat. Amin.

0 komentar:

Posting Komentar